Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 September 2013

Menonton Lagu Requiem Reprise



Kalau ditanya apa lagu patah terparah dalam bahasa Indonesia, saya akan cepat menjawab “Requiem Reprise” dari Melancholic Bitch. Lagu ini mungkin nantinya akan bernasib sama dengan Gloomy Sunday: dilarang diputar karena, katanya, membuat banyak orang bunuh diri.

Requiem Reprise sebenarnya bukan versi asli. Melancholic Bitch mulanya membuat Requiem di tahun 2004 dalam album Anamnesis. Namun saat itu, nama Melbi belum banyak terdengar. Setelah album Balada Joni dan Susi pada tahun 2009 melambungkan namanya, di tahun 2013 Melbi membuat re-issue album Anamnesis yang diberi nama Re-Anamnesis. Di album inilah lagu Requiem menemukan rupa barunya.

Seperti Gloomy Sunday, Requiem Reprise dibentuk dengan nada-nada minor bertempo lambat – lebih lambat dari Requiem – dan bebunyian asing serta lirik menyayat. Nada dan tempo itulah yang membuat lagu ini menjadi lebih kuat dari versi sebelumnya, hingga secara magis mampu menghadirkan rasa, kesan, dan suasana, seolah-olah mengundang Izrail untuk berdiri di belakang kita.

Itulah alasan mengapa saya belum juga berhenti mendengarkan lagu ini, meski telah terputar berkali-kali.

Ada yang bilang, “apapun yang dilakukan secara berulang-ulang, pasti bosan juga.” Namun itu tidak berlaku buat saya. Bukannya bosan, Requiem Reprise malah memicu saya untuk mendengarkannya secara lebih kreatif.

Saya pun akhirnya menemukan cara baru: dengan Windows Media Player. Software ini memiliki opsi visuaslisasi lagu yang tengah kita dengarkan.


Kotak visual itu, jika diklik kanan akan memunculkan opsi pola bentuk apa yang ingin anda munculkan. Saya biasanya menggunakan Ambience yang random, atau Battery yang juga random. Kalau sudah dipilih, tekanlah alt+enter pada keyboard untuk membuatnya full screen.

Pola-pola visual itulah yang akan membantu anda semakin merasakan, terkesan, dan bahkan tersayat Requiem Reprise tanpa perlu mengerti makna ataupun tafsir yang mengendap di dalamnya.

Kemarin, sengaja saya menunjukkan cara itu kepada pacar. Saya ingin tahu komentarnya. Kami pun fokus menonton Requiem Reprise bersama.

Saat menonton, saya sesekali melihat jidat pacar saya berkerut seperti merasakan sebuah sensasi. Dan di akhir lagu, ia berkomentar, “serem banget. Kayak putus asa. Bikin deg-degan. Apalagi pas di bagian (liriknya): dan susunan bahasa yang kau emban... Visualnya depresi banget.”

Maka, silahkan alami sendiri sensasi gaib “Menonton Requiem Reprise”!


Catatan: menurut seorang teman, cara di atas akan lebih asik dilakukan pada saat mengonsumsi ganja atau mushroom.

Kamis, 01 Agustus 2013

Endgame: Lakon Skakmat yang Bukan Akhir

                                        Foto diambil dari twitter @killthedj

Selepas perang dunia II, setelah raksasa besar bernama Rasio menyebabkan negara-negara adikuasa dengan pongah dan serakah menggunakan nuklir dan segala teknologi mutakhir untuk ambisinya menguasai dunia, kemanusiaan mengalami tragedi darah dan air mata. Para seniman dan intelektual Perancis merasakan kembali ketakutan dan mimpi buruk.

Absurdisme kemudian banyak dipilih sebagai cara merefleksikan kenyataan. Samuel Beckett (1906-1989), penulis peraih Nobel kelahiran Irlandia yang menghabiskan separuh hidupnya di Prancis, membidani lahirnya sebuah lakon yang memukau berjudul Endgame (1957). Lakon ini bersama lakon Waiting for Godot, dianggap sebagai karya penting Beckett.

Endgame adalah lakon satu babak dengan empat tokoh yang masing-masing memiliki keganjilan fisik. Latarnya pun aneh. Di dalam sebuah rumah, ada dua tong sampah yang di dalamnya hidup manusia, lukisan yang diletakkan secara terbalik, dua jendela, serta sebuah tangga.

Bukan hanya situasi dan kondisi yang jauh dari kata logis, percakapan demi percakapan juga berjalan secara irasional. Kalimat perkalimat terdengar saling bertabrakan, bermusuhan, dan tak sejalan.

Pada tanggal 28-30 Juni lalu, di Salihara, Teater Garasi membawakan lakon tersebut dengan getir, pahit, tapi juga penuh humor. Lakon yang diterjemahkan Yudi Ahmad Tajudin itu disutradarai Landung Simatupang.

Dalam panggung, ada sebuah jendela yang tak lagi menampakkan kehidupan. Lautan, ombak, dan cahaya mercusuar tak juga tertangkap mata dari jendela yang lainnya. Hanya ada dua jendela –sudut– untuk menatap keluar. Suasana rasanya datar dan mati. Yang ada hanya suara tapak sepatu Clov, seorang pembantu yang sedikit keterbelakangan mental dan cacat fisik juga wicara.

Itulah situasi di mana Hamm, Clov, Nagg, dan Nell menjalankan kisahnya. Hamm adalah seorang majikan. Ia buta dan cacat kaki –tak bisa berdiri. Hidupnya dihabiskan di kursi roda. Clov, pembantunya, juga memiliki cacat. Ia tak bisa duduk, jalannya patah-patah seperti robot, dan bicaranya seperti keterbelakangan mental. Orangtua Hamm, Nagg dan Nell malah tak punya kaki. Mereka seumur hidup tak bisa bergerak, terjebak di dalam sebuah tong sampah.

Selasa, 09 Juli 2013

Jengkel


Akhir-akhir ini pacar saya sering jengkel. Harapannya sering tak sesuai kenyataan. Bukan karena cemburu, tapi karena saya main golf melulu.

Golf yang saya maksud bukan olahraga elit dengan pendamping caddy gadis cantik nan ramping layaknya Antasari Azhar dengan Rani. Melainkan Letsgolf, sebuah permainan golf virtual yang saya dapati di Ipad keponakan saya.



Semenjak menemukan game ini seminggu lalu, hampir setiap hari saya memainkannya. Saya mendabak sibuk mengikuti turnamen di dalamnya dari kelas easy sampai hard.

Saat pertama kali memainkannya, saya teringat pada bulan puasa beberapa tahun lalu: saya dan teman-teman berjam-jam di warnet, dari sehabis Isya sampai setengah empat waktu sahur. Ketika orang beramai-ramai ke mesjid untuk tarawih, kami malah berbondong-bondong menuju warnet. Di sana kami bermain Pangya, permainan serupa Letsgolf, namun sifatnya online.

Yang menarik dari permainan semacam ini adalah saya dituntut untuk memasukan bola ke hole, namun dengan memperhitungkan faktor-faktor yang dapat mengganggu arah bola. Misalnya angin. Saat memukul, angin dapat memengarhui berubahnya arah bola. Selain itu adalah kerataan tanah, power pukulan, serta akurasi. Semuanya itu harus diperhitungkan sehingga sasaran tepat target.

Ketepatan target dapat menghasilkan HIO (istilah gamers dalam menyebut “Hole In One”). HIO berarti sekali pukul langsung masuk. Tapi hal tersebut tidak mudah. Ketepatan dalam memperhitungkan menjadi keharusan dalam mencapainya. Berkali-kali bermain, saya baru tiga kali mendapat HIO di turnamen Letsgolf. Sulit, namun menantang.

Saking serunya, saya sering lupa waktu. Pada bulan puasa itu, di warnet, rentang waktu dari Isya sampai Sahur bukanlah waktu yang lama. Inilah relativitas waktu. Perasaan asyik dapat mengubah yang lama menjadi sebentar. Kini perasaan itu saya rasakan kembali kalau nge-golf di Ipad.

Akibatnya, pacar saya pun sering jengkel. “Golf terusssssss, golf terus,” keluhnya, pertanda harapannya tak sesuai kenyataan.

Saya pun sering merasa sama dengannya. Saya yang masih berambisi untuk terus mencapai HIO dan memenangkan turnamen, seringkali mengalami kegagalan. Pukulan saya berkali-kali jauh dari hole. Kalau sudah dekat, malah bola tak jarang berbelok karena tanah yang tak rata. Padahal, perkiraan saya rasanya sudah tepat. Power dan akurasi menembak sudah pas. Namun kenyataannya tidak.

Tapi di dunia virtual ini, kenyataan (artificial) bisa saya ulang dan kemudian saya akali sampai menjadi seperti yang saya inginkan. Melesetnya pukulan tak begitu menjadi problem. Saya bisa mengulang pukulan, sampai tepat sasaran, sampai mencapai HIO. Sebab, di permainan ini, saya memiliki opsi “restart”.

Senin, 24 Juni 2013

Yang Kuingat Saat Nonton Warm

“Lelaki... dan, lelaki... dan perempuan...” di sisi panggung seorang perempuan memulai monolog menggunakan standing mic. Wajahnya datar, tapi seperti memendam hasrat. Maka dibelainya standing mic itu dengan jari-jari tangannya pelan-pelan.

Tak lama, dua laki-laki datang. Perempuan itu mengontrol permainan dengan monolognya. Dikepung dua dinding penuh sorotan lampu yang saling berhadapan, bulir-bulir keringat dengan cepat menyembul dan mengucur dari tubuh mereka.

Warm berkisah mengenai dua lelaki yang dikendalikan, dikuasai, dan dinikmati di dalam mimpi perempuan muda. Perempuan  tersebut diperankan Ine Febriyanti. Sementara dua lelaki diperankan Edward Aleman dan Wilmer Marquez.

Selama satu jam penuh, cahaya panas menyinarinya. Dua laki-laki terus menerus memperlihatkan kosa gerak akrobatik sebagai simbolisasi atas hasrat, mimpi, dan fantasi seksual yang dimantrakan perempuan itu. Detik demi detik semakin riskan. Si perempuan semakin menggebu mengungkapkan jiwanya. Tempo permainan bertambah cepat. Gerakan-gerakan mereka menantang keseimbangan, di antara keringat dan kehausan.

Tapi keringat bukanlah penghalang di pertunjukkan ini. Kelompok Rictus justru menjadikannya sebagai elemen penting untuk menghasilkan sebuah emosi. Hal tersebut nampak ketika dua lelaki melakukan gerakan yang sulit dan rumit: keduanya beberapa kali terlihat keras mempertahankan tubuhnya yang nyaris terjatuh, bahkan sempat terjatuh karena licin keringat di badannya.

Panasnya ruangan

Ketika memasuki gedung pertunjukan Teater Salihara (15/6), penonton diberikan sebotol air putih. Di dalam, tak seperti biasanya: pendingin ruangan tak menyala. Ruangan terasa panas pekat. Air putih itu dipersiapkan untuk menggantikan keringat yang mengucur. Sontak hampir seluruh penonton mencari lembaran kertas untuk disulap menjadi kipas.

Seorang penonton berujar, “namanya juga Warm.”

Lampu padam. Di panggung, dua dinding penuh lampu yang saling berhadapan menyala. Nyaris sepanjang pementasan penonton menikmati pertunjukan sambil kipasan.

Tapi nampaknya kondisi panggung lebih panas dari bangku penonton. Itu karena puluhan lampu-lampu yang tak sebentar pun berhenti menyorot. Buktinya terlihat dari keringat-keringat yang mengucur deras dari para pemain.

Selepas pertunjukan, David Bobee sang sutradara mengizinkan penonton merasakan panasnya lampu-lampu yang membakar panggung. Dengan memegang sebotol air putih, aku pun mencobanya. Tapi belum sampai semenit panas sudah terasa ganas. Aku menyerah berlama-lama.

Saat keluar dari gedung pertunjukan, udara malam itu rasanya begitu dingin. Padahal, itu karena aku sebelumnya merasakan kondisi yang jauh lebih panas. Aku masih haus. Lalu kubuka botol air minum tadi. Rupanya botol itu ikut panas. Air yang kuminum pun menjadi hangat.

Ini videonya: klik.

Sabtu, 15 Desember 2012

Three Little Pigs, Messing Their Own Life: Sebuah Dunia yang Tak Baik-Baik Saja

"Don't worry about a thing, cause every little thing gonna be all right." - Bob Marley, dalam lagunya Three Little Birds.

Albert Camus pernah mengatakan bahwa dunia ditakdirkan sebagai sesuatu yang absurd. Oleh karena itu, semua pencarian atas kebenaran akan berakhir pada kegagalan serta kesia-siaan. Di dunia yang serba tak jelas seperti itu, keberadaan manusia pun menjadi pertanyaan.

Sementara, di zaman ini, teknologi yang semakin canggih malah menimbulkan kegelisahan: apakah hal itu adalah sebuah kemajuan, atau kemunduran? Banyak orang sudah menduga bahwa pada waktunya, semua peran manusia akan dapat digantikan oleh mesin. Teknologi akan melampaui segalanya, bahkan melampaui interaksi manusia. Hidup pun semakin tak jelas. Albert Einstein pernah menghawatirkan hal ini, "I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots."

Harri Muthahari (selanjutnya akan saya sebut “Harbiw”), seorang mahasiswa FISIP UNPAD, melukisan hal tersebut dalam karyanya berjudul Three Little Pigs, Messing Their Own Life, sebuah lukisan dengan bentuk, objek, dan warna yang eksperimental. Ia mengaku, judul Three Little Pigs, Messing Their Own Life diambil dari judul lagu Bob Marley, Three Little Birds. Judul lagu itu kemudian ia plesetkan dan tambahkan sesuai konteks yang hendak ia hadirkan.

Dalam lukisannya, Harbiw menghadirkan tiga Babi yang berada dalam sebuah meja sebagai fokus yang menggiring mata. Di atas meja itu ada daftar menu dan secangkir kopi. Meja itu seperti meja restoran. Tapi di meja restoran itu, ketiga Babi tersebut tak saling bicara. Mereka nampak hanya saling menggenggam handphone, dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Harbiw ingin menghadirkan suasana keterasingan dalam sebuah “dunia” yang di dalamnya teknologi ikut berperan.

Di belakang ketiga Babi itu, sesosok Monster berwarna biru dengan sebelah matanya yang mengedip, seperti meledek. Diam-diam Monster itu mengamati tiga Babi yang tak menyadari. Di sini, Harbiw menghadirkan tanda yang penuh makna simbolis. Siapakah sebenarnya Babi-babi itu? Siapakah sebenarnya Monster itu? Ada "rahasia" di sana.

Lebih dari itu, Harbiw sekonyong-konyong juga menghadirkan jam dinding, gitar, dan satu monster kecil yang berpose seperti ingin menyergap. Sebuah dunia yang tak jelas, yang terasing, sebuah dunia yang menghawatirkan.

Jika Bob Marley menyadari hal yang sama, ia harusnya juga ikut khawatir, sebab every little thing isn’t gonna be alright!

Jumat, 11 Mei 2012

Review Film, Chronicle (2012): Cerita Pelampauan Citra

“…seperti menatap sebuah potret dalam bingkai. Sebuah potret, tentu bukanlah realitas sebenarnya. Ia adalah realitas citra.” – Acep Iwan Saidi dalam Surat untuk Presiden (SBY), kompas.com, 23 Februari 2012.

Ia dipukuli, dianiaya, diolok-olok. Lingkungan sekitar tak menerima dirinya, seorang laki-laki remaja berkulit putih yang pendiam dan cenderung anti-sosial.

Laki-laki itu Andrew Detmer (Dane DeHaan). Ia digambarkan memiliki kepribadian introvert, yang hanya pasrah ketika teman-teman kampusnya menganiaya. Andrew juga sering dibentak, bahkan dipukuli ayahnya. Namun ia tak bisa apa-apa. Ia seolah kehilangan kuasa atas dirinya.

Andrew berniat merekam semua kejadian yang terjadi dengan kamera yang dibelinya. Ia merekam pemukulan yang dilakukan ayahnya, pengeroyokan teman kampusnya, juga kekerasan yang dilakukan orang asing yang direkamnya pada sebuah pesta. Kamera itu menjadi saksi kekalahannya atas kenyataan. Kamera itu merekam dan pada gilirannya, menyajikan sejarah dirinya: citra beserta ketidakmampuannya.

Namun suatu ketika, ia dan dua orang temannya menemukan sebuah lubang misterius. Lubang yang besar, gelap, dan menyusur ke bawah tanah. Mereka masuk ke dalam sambil merekamnya. Lubang tersebut memberikan mereka kekuatan telekinetik: suatu tenaga yang mampu menggerakkan dan menggetarkan benda.

Dengan kekuatannya, mereka bersenang-senang. Mereka juga kerap menjahili, bahkan mencelakakan orang. Semuanya terekam dalam kamera Andrew. Di sini, citra dirinya pada kamera mulai berubah karena “suatu hal”, telekinetik.

Cerita pun mulai berubah. Andrew yang awalnya tak memiliki kuasa apa-apa, kini mampu berbuat apapun: ia mulai berani melawan ayahnya, merampok dan mencederai teman-teman kampusnya.

Ia tak terkendali. Seolah hendak membalas dendam pada kenyataan, ia menyebut dirinya seperti apa yang disebut Plato “Apex Predator”. Ia menguasai segalanya. Ia membunuh citra dirinya sendiri dengan menjadi apa yang tak pernah terbayangkan oleh lingkungan sekitarnya.

Di akhir cerita, Andrew yang lepas kontrol hingga menghancurkan kota, mati dibunuh oleh Matt, sepupunya. Matt kemudian pergi ke Tibet -- tempat di mana Andrew ingin menuju -- merekam dirinya sendiri dan menyampaikan pesan ke pada Andrew, lewat kameranya.

Film yang disutradarai Josh Trank ini menggunakan teknik Found Footage, sebuah teknik penceritaan seperti film-film dokumenter yang mengabaikan konstruksi emosi melalui musik dan pencahayaan. Dengan biaya produksi hanya sebesar US$ 15 juta, Trank cukup mampu menunjukkan efek visual yang emosional.

Dengan beberapa plot yang bertele-tele dan tak menceritakan apa-apa, film yang fokus pada kehidupan Andrew ini hendak menyampaikan bahwa kenyataan adalah hal-hal yang melampaui citra.

Rabu, 18 April 2012

Chelsea, Batu Sandungan Barca



Dini hari nanti (19/4), pertandingan lanjutan semifinal Liga Champion leg pertama antara Barcelona melawan Chelsea akan bergulir. Sebelumnya, Madrid ditekuk 1-2 di kandang Munchen.

Stamford Bridge bukan stadion yang ramah bagi Barca. Dua pertandingan terakhir di sana membuahkan satu kali kalah dan satu hasil imbang bagi Barca. Kekalahan itu terjadi saat Chelsea bertemu Barcelona di grup yang sama, 18 Oktober 2006. Kala itu, satu gol yang dicetak Drogba memastikan tiga angka bagi Chelsea.

Namun Chelsea memiliki kenangan pahit ketika menjamu Barca pada semifinal Liga Champion di Stamford Bridge, 6 Mei 2009 sesudahnya. Saat itu, Abidal memang di usir dari lapangan. Tapi hal itu tak cukup bagi tuan rumah. Tekel terhadap Florent Malouda dan Didier Drogba tak membuahkan penalti.

Pertandingan tersebut menghadirkan dua momen paling ikonik: Ballack memrotes keputusan wasit yang dianggapnya tidak adil. Saat itu, Ballack mengejar wasit sambil berusaha untuk tidak bersentuhan. Kedua, Didier Drogba melakukan umpatan ke kamera setelah di akhir laga pertandingan itu hanya membuahkan hasil imbang, 1-1.

Hingga kini, pendukung Chelsea masih memrotes keputusan-keputusan Ovrebo, wasit yang memimpin pertandingan itu. “saya masih menerima protes dari pendukung Chelsea melalui surat elektronik, setidaknya tiga atau empat surat pertahun”, tutur Ovrebo kepada Daily Mail.

Tentu saja pertandingan nanti adalah pertandingan yang ditunggu-tunggu oleh para fans fanatik Chelsea.

Di sisi lain, statistik lima pertandingan terakhir kedua tim yang menunjukkan empat hasil imbang dan satu kali kalah bagi Barca, bisa jadi salah satu stimulan Chelsea untuk meredam bahkan menaklukkan Barca.

"Satu hal yang saya yakini dalam laga nanti adalah bahwa ini akan lebih rumit daripada pertemuan di tahun 2009," ungkapnya seperti yang dilansir situs resmi Barca.

Pentingnya Pertahanan

Jurnalis olahraga, Josep Lopiwudhi, dalam majalah Bolavaganza edisi Januari 2012 menulis salah satu cara menaklukkan Barca adalah dengan mempertahankan turf kandang. “jangan biarkan Barcelona mencetak satu pun gol tandang. Sebaliknya, berusaha sekuat tenaga untuk mencetak gol ketika bertandang ke Camp Nou”, tulisnya.

Meskipun sulit, hal tersebut agaknya menjadi mungkin jika melihat penampilan Chelsea yang kerap membaik semenjak ditangani Di Mateo. Absennya David Luiz yang mengalami cedera hamstring nampaknya hanya sedikit berpengaruh, mengingat Chelsea memiliki Garry Cahill yang juga handal dalam bertahan maupun melakukan serangan. Selain itu, bugarnya Ivanovic juga bisa menjadi pertimbangan bagi Di Mateo.

Lopiwudhi juga menulis pentingnya menumpuk pemain di depan gawang sendiri. Menurutnya, pressing ketat dan ngotot merupakan rencana apik untuk meredam agresifitas Barca.

Selain itu, Di Mateo dapat mempertimbangkan Essien yang memiliki naluri bertahan yang kuat dan mampu melakukan pressing dengan baik. Selain untuk mengantisipasi umpan-umpan pendek Barca, Essien juga dapat membantu pertahanan kala Alvez yang kerap kali dipasang ke depan, turut membantu melakukan serangan.

Jika melihat sejarah pertandingan kedua pihak, nampaknya Di Mateo akan menerapkan strategi bertahan seperti yang dilakukan Mourinho pada 2006. Duo bek tangguh Ricardo Carvalho dan John Terry, saat itu berhasil menaklukan gempuran Barca yang digencarkan Ronaldinho dan Messi cs.

Kesulitan Barca

Barcelona cenderung tak pernah mengubah gaya mainnya. Tiki-taka atau umpan-umpan pendek yang selalu diperagakan, membuat sejumlah pelatih menemui titik lemah Barca. Juan Ignacio Martinez, pelatih Levante, yang kemarin minggu (15/4) nyaris membawa timnya menang menghadapi Barca mengklaim bahwa dirinya mengetahui banyak titik lemah di kubu Barca. Itu “karena mereka hampir tak pernah mengubah gaya main”, ujarnya seperti yang dilansir Tabloid Bola.

Pertandingan terakhir Barca menghadapi Levante jelas menjadi pekerjaan rumah evaluatif yang berat bagi Pep Guardiola. Dalam mempersiapkan strategi menghadapi Chelsea, Pep juga mau tidak mau mempertimbangkan laga el clasico yang tak kalah penting, pada Sabtu mendatang.

Barca memang memiliki Busquet, gelandang bertahan yang tangguh dan tertib yang juga sesekali mampu membantu serangan. Namun Barca mesti mengantisipasi serangan balik Chelsea yang kerap dilakukan melalui sayap, yang kemudian melakukan umpan lambung ke tengah. Performa Mascherano yang semakin membaik dengan duo tangguh Puyol dan Pique nampaknya memang dapat mengantisipasi itu. Tapi kecepatan Kalou dan Ramires juga mampu melakukan tusukan ke tengah pertahanan, bisa-bisa merepotkan Barca.

Chelsea juga memiliki Lampard dan Juan Mata yang mampu melakukan tendangan jarak jauh terarah.

Pertandingan tersebut akan berjalan seru mengingat kedua tim memiliki pertahanan dan pola serangan yang baik. Kita tunggu saja, sejauh apa Chelsea mampu meredam agresivitas Barca dan memanfaatkan peluang counter attack.

'Balada Joni dan Susi', Manis Getir Kelas Menengah

Sempat dimuat di Epicentrum, pers mahasiswa di IISIP Jakarta.



Balada Joni dan Susi, album kedua dari band asal Jogja, Melbi (sebutan untuk Melancholic B1tch) menyuguhkan sebuah rangkaian lagu dengan konsep cerita pendek tentang dua orang dari kelas menengah. Lagu-lagu pada album ini memiliki cerita yang saling terkait. Sebuah konsep menarik dan cenderung baru dalam skema musik tanah air.

Di album ini, Joni dan Susi adalah dua orang dari kelas menengah. Menurut laman resmi Melbi (www.melancholicbitch.co.cc), sosok Joni dan Susi diambil dari dua buah berita kriminal yang berbeda. Sebanyak 12 lagu di album menyuguhkan suasana kelas menengah yang hiruk-pikuk memperjuangkan hidup untuk kemudian merayakannya. Vokalis sekaligus pencipta lirik, Ugoran Posad menggunakan simbol-simbol populer yang sangat dekat dengan kelas menengah, seperti supermarket, kota, televisi, dan roti.

Pada track pertama, dengan suara petikan keyboard yang pelan, intro menceritakan latar belakang Joni dan Susi, “Ketika Joni dua-satu dan Susi sembilan belas, hidup dengan bergegas di reruntuh ruang kelas.” Lagu Bulan Madu melanjutkan dengan kesan perayaan terhadap hidup ala kelas menengah yang kerap kali bermimpi bulan madu ke luar negeri.

Dalam menulis lirik, Ugo terasa menggunakan gaya ‘puisi suasana’. Pada lagu 7 Hari Menuju Semesta, dengan nada-nada melankolis, menggambarkan cinta, duka dan hasrat untuk menguasai dengan cukup epik, “Katakanlah jika aku Israel kau Palestina; jika aku Amerika, kau seluruh dunia; jika aku miskin kau negara; jika aku mati kau kematian lainnya.”

Kepedihan semacam itu juga tercermin pada lagu Menara dan Noktah Merah dalam Kerumunan.

Pada Distopia, Melbi menceritakan tentang keyakinan akan keabadian, “Bersama-sama kita, bersama selama-lamanya, bersama sama selamanya.” Sayangnya, lagu yang berdurasi hampir lima menit ini melakukan beberapa kali pengulangan lirik. Namun hal itu dapat ditutupi dengan bunyi-bunyi menarik, salah satunya dengan beat a la dangdut koplo.

Kondisi kelas menengah semakin tercermin pada lagu Mars Penyembah Berhala dan Akhirnya Masup TV. Dalam lagu Propaganda Dinding dan Apel Adam juga membawa pendengar ke suasana supermarket yang erat kaitannya dengan roti, apel, dan harga.

Di antara suasana hiruk-pikuk cinta, duka, dan mimpi, Melbi juga memberikan sebuah Nasihat yang Baik, “Susi ingin tidur, Susi lelah bermain seharian. Susi terlalu lelah jalan-jalan. Terlalu lelah, maka tidurlah. Sepotong musik untuk cemasmu; untuk resahmu; untuk sedihmu; untuk menunggu waktu yang lelah.” Sebuah nasihat yang baik untuk esok hari, untuk berusaha lebih keras mengejar mimpi.

Sesudah bunyi-bunyi meriah di lagu-lagu sebelumnya, outro menutup album ini dengan nada-nada pelan sambil menyebut, “Namaku Joni, namaku Susi,” secara berulang.

Album ini perlu didengar, sebab Balada Joni dan Susi seperti menjadi batu lompatan Melbi setelah album pertamanya Anamnesis (2004) tidak terlalu menjadi perhatian.

Minggu, 19 Februari 2012

Terra Angkara - Homicide


Suara Wiji Thukul membacakan puisi protesnya berjudul “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu” memulai lagu ini, menghadirkan sebuah ketegangan. Kesan itu berlanjut dengan hadirnya suara hiruk-pikuk negosiasi massa seraya merepetisikan teriakan, “Lawan! Lawan! Lawan!”. Permulaan yang memukau untuk lagu dari band hiphop politis.

Terra Angkara, sebuah lagu Homicide (1994-2007) di album Illsurrekhsun, menyuguhkan instrumen musik yang disatu-padukan dengan suara-suara tak berirama. Sorak-soray massa, suara senapan, dan pidato Munir (di depan Mahkamah Agung, 12 Desember 2001) di lagu ini, semakin menguatkan suasana tegang. Dengan ketiadaan lirik, kolase suara tersebut justru terdengar menyatu dengan instrumen musik.

Namun, mendengarkan lagu ini tak bisa separuh-separuh. Jika begitu, pada menit ke 3:29, misalnya, suara beberapa orang yang meneriakkan “Allahu akbar.. Allahu akbar..”, di saat ini akan mengonotasikan sorban, jenggot, gamis, kayu, dan golok. Nampaknya Homicide tak bermaksud menyampaikan hal tersebut. Sebab, sebelumnya, selain hadirnya ketengangan massa, suara orangtua yang jelas mengaduh, menambahkan kesan perlawanan massa terhadap penguasa: “ternyata, di bumi ini, tidak ada sama sekali keadilan.."

Pemilihan judul “Terra Angkara” juga menopang suasana di lagu ini. Sekitar 70% bagian tubuh lagu ini (perhitungan kasar), didominasi suara-suara yang memberikan efek tegang. Lagu ini berhasil membuat pendengar merasa risih, atau setidaknya mengucap, “lagu apaan sih ini?!”

Ada banyak musisi yang membuat nada/musik, lebih dulu dari pada lirik. Hal itu memungkinkan adanya pemotongan tubuh lirik yang akan berpengaruh pada makna yang ingin disampaikan. Lagu ini seperti memberi solusi pada stagnasi masalah tersebut.

Saya menjadikan lagu ini sebagai alarm blackberry yang membangunkan saya untuk ke kampus, pagi-pagi.


20 Februari 2012.

Kamis, 07 Juli 2011

Draft yang Belum Tuntas, Tujuh Juli 2011

Budaya pop setidaknya dibuat dari tiga bahan dasar: Imajinasi massa, komunikasi massa, dan simbol. Imajinasi massa yang dimaksud adalah imaji tentang percintaan, kebahagiaan hidup, kemewahan, dan semacamnya. Komunikasi massa adalah interaksi sosial yang biasa digunakan seharihari. Simbol dimaksudkan pada penanda-penanda yang dianggap mampu mewakili orang banyak.

Sexualitas adalah hasrat naluriah. Ia ada "dari sananya". Ia berada di dalam diri setiap orang. Menjadi bagian dari massa. Oleh sebab itu, ia tak bisa dipungkiri. Ironisnya, ia seperti ditolak, perbincangan tentang seksualitas adalah barang yang cukup langka. Sampai saat ini, ia masih dianggap sebagai hal yang tabu, haram, dan menjijikan. Maka seni yang mengangkat tema seksualitas bukanlah hal yang populer.

Memang, belakangan ini film-film horor dalam negeri gemar menawarkan "kehororannya" melalui tampilan pakaian minim dan bra setengah terbuka lewat artis-artis BTS (Berani Tampil Seksi). "Sastra wangi" semakin ramai muncul sebagai perayaan atas diktum post-modern "Tuhan Telah Mati". Namun keduanya bukan tanpa halangan. Ada "Polisi Moral".

Dalam musik, Goooddit Mixtape Vol. 4 tentu bukanlah musik populer...

----------------------------------------------------------------------------------

Sekarang males nuntasin.

21 Januari 2012

Selasa, 10 Mei 2011

(Menulis Iseng) Bvrtan - Pemuja Sawah Tebu


Jika di Norwegia Varg Vikernes menggunakan black-metal untuk menghidupkan kembali nilai-nilai pagan warisan nenek moyang, maka di Indonesia, Bvrtan hadir dengan mengangkat tema lokal agraris.

Bvrtan (baca: Burtan), akronim dari Buruh Tani, sekonyong-konyong menyembul dari sudut-sudut jejaring sosial seperti kaskus dan facebook. Dengan mengusung genre black-metal dan mengambil tema agraris, band yang beranggotakan Pak Kades (vocal), Tukang Pacvl (drum), dan Kvli Arit (gitar & bass), sukses mendobrak stagnanisasi perkembangan musik metal di Indonesia belakangan ini.

Bulan Mei 2011, melalui fanpage-nya di Facebook, Bvrtan merisil EP album berjudul “Pemuja Sawah Tebu”. Meski sebelumnya album ini telah beredar secara gratis di ranah file sharing, album ini juga dirilis secara fisik. Menariknya, rilisan fisiknya hanya diproduksi sebanyak 66 keping yang di setiap kepingnya diberi angka dari 1 sampai 66.

Dimulai dengan “Sawah Tebu Terlarang”, intro ini benar-benar menawarkan nuansa kebencian yang barangkali tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bagaimana tidak, dalam ketiadaan distrosi gitar yang menyeret dan hantaman repetisi drum, Pak Kades sendirian meraung-raung membawakan elemen yang mungkin asing dalam sebuah lirik musik, di antaranya: hama, tikus, pupuk, dan cangkul.

Kegundahan kolektif terlihat pada lagu kedua yang berjudul “Musnahlah Panen Raya Tahun Ini yang Membuat Kami Tidak Bahagia”. Di lagu ini, Bvrtan menulis lirik dengan mengambil sudut pandang “kami”. Anda tentu dapat membayangkan bagaimana rasanya mendengarkan lagu ini.

Dilanjut dengan “Ritual Menanam Singkong di Dalam Kebun Kegelapan” yang bercerita tentang kehidupan para petani, dan “Pacul Pusaka dari Pak Kades” yang mencampurkan distorsi khas black-metal dengan monolog Pak Kades, album ini ditutup dengan sebuah ode petani yang luar biasa berjudul “Tengkulak Biadab dari Neraka”.

Album ini juga memperlihatkan artwork yang cukup menarik. Dengan warna hitam-putih dan gambar petani sedang membawa traktor, Bvrtan menawarkan citarasa mistis-agraris.

Dengan konsep yang tergolong “baru”, Bvrtan memperkaya khazanah musik metal di Indonesia. Maka bagi para pecinta metal, album ini adalah wajib!



May Rahmadi, 10 Mei 2011.
-Tulisan Pertama Soal Musik-

Kamis, 14 April 2011

Kita Memang Menyedihkan!

Green Cafe Kemang, 9 April 2011, akhirnya Master Wu menjadi kenyataan untuk saya. Sebelumnya, Sandi pernah memitoskan Band lawas ini. Ya, malam itu saya menyaksikan Master Wu secara langsung.


Namun bagi saya, tak ada yang menarik dengan band ini. Lirik pemberontakan yang klise seadanya, dan skill musik yang tak cukup luar biasa, apa yang ditawarkan? Barangkali, hanya suasana. Band ini menawarkan suasana pemberontakan baru lewat rap-rock jika memang Metal, HC-Punk sudah terlalu basi seperti kaos hitam yang membuatmu narsis dan onani sendiri.



Malam sudah semakin larut. Master Wu baru saja selesai mengakhiri launching album terbarunya.


Meski badan ini separuhnya sudah berisi pegal, saya tak juga kunjung pulang. Sandi mengajak saya dan Ikbal untuk mampir ke Angkringan Fatmawati.