Senin, 07 Januari 2013

Tuhan yang Dangkal


Sebuah catatan yang terinspirasi dari obrolan dengan Addis Nadira, tadi sore.
_________________________________________________________________

Aku pernah mendengar: dalam Islam, menafsir Quran dan Hadits bukanlah hal sembarangan. Manusia tak boleh memaknainya asal-asalan. Umat Islam harus memiliki metode-metode untuk melakukan penafsiran.

Kalau tidak keliru, salah satu metodenya disebut kontekstualitas. Metode ini menganggap bahwa aturan-aturan yang turun dari langit selalu sesuai dengan keperluan zaman di mana sebuah ayat diturunkan. Oleh karena itu, menafsirkannya berarti memahami juga bagaimana konteks zamannya.

Beberapa orang (yang mengklaim dirinya) Islam menjadikan hal itu sebagai alasan untuk menafsirkan ulang titah langitan sesuai konteks kekinian. Misalnya, mereka menganggap bahwa khamr (minuman keras) tidak mutlak haram. Itu karena zaman rasul bercuaca panas sehingga meminumnya dapat memabukkan.

Tapi kau tak sepaham. Tuhan tak sedangkal itu, katamu. Tuhan Maha Mengetahui dan oleh karenanya, Ia mengerti rinci apa yang akan dan belum terjadi. Maka titah-Nya mutlak.

Aku hanya akan setuju denganmu jika aku memandang Tuhan hanyalah milik agama-agama. Tuhan yang tak universal. Tuhan yang begini, yang mutlak untuk agama ini. Tuhan yang begitu, yang mutlak untuk agama itu. Maka izinkan aku membicarakan Tuhan dengan leluasa, dengan membebaskan Tuhan dari kepemilikan agama-agama.

Hmmm…  aku memulainya dengan menganggap bahwa kita memang ditakdirkan hanya mampu mengenal Tuhan melalui bahasa, sampai kapan pun. Tuhan yang tertangkap kata-kata dan hal-hal visual, Tuhan yang terprediksi, terduga, dan tuntas, Tuhan yang terbahasakan, Tuhan yang kita kenal.

Maka perlu kau ingat, beberapa waktu lalu, ramalan Suku Maya sudah meleset. Itu adalah bukti bahwa kebenaran tak bisa diduga, meski coba dibahasakan. Aku pikir, membicarakan Tuhan adalah membicarakan kebenaran.

Sebab itu, ketika kau membahasakan Tuhan dengan menganggap bahwa Tuhan tak sedangkal apa yang mereka terjemahkan, pada saat itu juga kau malah mendangkalkan Tuhan itu sendiri, Kasihku!

1 komentar: