Kamis, 21 November 2013

Gadis Kecil Penjaja Wortel



Tak ada mobil yang lepas dari lambaian tangannya. Meski siang itu matahari mendidih, tangan kanannya terus melambai ke arah para pengemudi mobil di tepi jalan pintu masuk kawasan Taman Safari, Cisarua, Bogor. Sedangkan tangan kirinya memegang wortel. Cuaca panas tak membuatnya pasrah. Matanya tetap awas. Ia siaga terhadap setiap mobil yang lewat. Dan persis di sebelahnya, wortel-wortel berjajar dan sesekali disiram agar tetap segar.

Muti namanya. Ia siswi kelas lima SD Cibereum. Usianya baru 10 tahun. Sebagai penjual wortel, memang Ia tak sendirian. Tapi Ia satu-satunya pedagang yang menggunakan baju putih dan rok merah, seragam SD. Tubuhnya kurus, kulitnya coklat, dan rambutnya diikat. Orang-orang mengenalnya pendiam, tak banyak bicara.

Ketika lambaian tangannya berhasil menghentikan satu pengendara mobil, Ia buru-buru mendekatinya. Pengemudi mobil itu membeli tiga ikat wortel seharga 10 ribu rupiah. Uangnya 20 ribu. Muti tak punya kembalian. Lalu Ia cepat-cepat menukar uang ke sebuah warung di dekatnya.

Muti tinggal di desa Lembah Duhur. Dari tempatnya berjualan, desa itu berjarak sekitar satu jam jalan kaki. Kini sudah setahun Ia menjalani rutinitas sebagai penjaja wortel. Karena berjalan kaki, “awalnya sih capek banget,” kata gadis pendiam itu. “Tapi lama-lama terbiasa.”

Muti menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menjajakan wortel. Senin sampai Jumat, Ia berjualan dari jam 12 siang hingga enam sore. Kalau Sabtu dan Minggu, Ia berdagang dari jam tujuh pagi sampai jam enam sore, karena sekolahnya libur. Dari pekerjaan inilah Muti mendapat uang jajan. “Bisa bantu ibu juga,” katanya.

Biasanya, tepat saat sekolah bubar, Ia langsung pulang ke rumah. Setelah meletakkan tas dan mencopot sepatu, Muti langsung bergegas ke tempatnya berjualan.

Sore hari, selepas berjualan wortel, Muti menjaga adiknya yang masih berusia satu tahun, di rumah. Ia kemudian mengaji, belajar, lalu tidur sampai jam lima pagi untuk sholat dan berangkat ke sekolah yang juga berjalan kaki.

Muti anak ke dua dari tiga bersaudara. Adik Muti baru berumur satu tahun. Kakaknya kelas dua SMP. Muti sempat mengajak kakaknya berjualan wortel. Tetapi kakaknya menolak. “Dia malu,” gadis lugu itu menjawab singkat.

Orangtua Muti sebenarnya petani wortel. Tetapi ayah Muti lebih memilih menjual wortelnya ke penyetor. Itulah yang membuatnya terpaksa menjual wortel milik orang lain.

Tapi Muti juga tak selalu dapat menjajakan wortel. Ia berkerja hanya saat diminta pemilik wortel menjajakan wortelnya. Sofi adalah salah satu pemilik wortel yang berlangganan mempekerjakan Muti.

Ketika ditemui, Sofi tengah duduk di bangku kayu, seberang tempat Muti berjualan. Ia sedang mengamati Muti sambil memainkan handphonenya. Kalau perempuan berjilbab dan berkulit putih itu sedang ingin menjajakan wortelnya sendiri, katanya, “Muti cuma jualan plastik keresek aja”.

Pembeli plastiknya tak dipatok harga tertentu. Nilai satu plastik kereseknya bergantung pada keikhlasan pembeli. Satu plastik kereseknya berharga, “seikhlasnya aja,” kata Muti. “Paling besar sih orang ngasih 10 ribu.”

Muti sedih bila harus berjualan plastik keresek. Sebab jarang sekali orang membutuhkan plastik keresek. Jadi Muti akan lebih banyak mendapatkan uang bila berjualan wortel.

Kata Sofi, Muti orang yang pendiam. Tetapi diam tak berarti malas. Sofi mengakui, “dia orang yang semangat.” Itu sebabnya Sofi memilih Muti menjajakan wortelnya. Selain karena semangatnya, “pengunjung biasanya lebih tertarik membeli wortel dari anak-anak kecil,” ungkap Sofi. “Apa lagi kalau ke arab-arab-an.”

Dari usahanya berjualan wortel selama setahun, Muti paling banyak mendapatkan 30 ribu sehari. Uang yang ia dapatkan kemudian dibagi tiga. Kalau dapat 30 ribu, Muti memberi 10 ribu untuk ibunya, 10 ribu untuk jajan, sisanya untuk ditabung.

Muti mengakatan, kini tabungannya sudah 120 ribu rupiah. Tabungan itu, “buat beli sepeda,” ucapnya. Saat SMP nanti, Muti berharap, dia sudah bisa membeli sepeda dari tabungannya. Muti tak ingin berjalan kaki. Dia ingin bersepeda ke sekolah. Dia ingin sepeda membantunya, dalam menjual wortel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar